Gnext Indonesia, Lumajang - Polemik pembangunan jembatan limpas yang putus di wilayah rawan lahar kembali menjadi sorotan publik. Tanggapan datang dari Bunda Indah yang menyampaikan pandangannya melalui unggahan video TikTok pada 25 Februari 2026. Ia menyatakan, “Kalau mau dibangun pemerintah salah juga, karena itu zona merah. Jangan malah difasilitasi.”
Dikutip dari Gnext Indonesia, seorang siswi sekolah dasar terseret arus banjir lahar dingin saat hendak berangkat sekolah.
Korban diketahui bernama Vita, siswi SDN Jugosari 3. Insiden terjadi pada Senin pagi (23/2/2026) ketika ia menyeberangi Sungai Regoyo bersama ayahnya, Anton (44). Saat itu, aliran lahar dingin dari Gunung Semeru tiba-tiba meningkat dan menyeret tubuh korban.
Perjalanan yang seharusnya menjadi rutinitas harian menuju sekolah berubah menjadi situasi darurat dalam hitungan detik. Ayah korban sempat berupaya menyelamatkan anaknya di tengah derasnya arus bercampur material vulkanik, namun kondisi sungai yang tidak stabil membuat proses penyelamatan menjadi sangat berbahaya.
Peristiwa ini kembali membuka kekhawatiran warga terhadap akses penyeberangan yang belum memiliki infrastruktur permanen. Banyak masyarakat setempat terpaksa tetap melintasi jalur tersebut setiap hari karena menjadi satu-satunya akses menuju sekolah, ladang, maupun pusat aktivitas lainnya.
Di sisi lain, kawasan tersebut dikenal sebagai zona rawan aliran lahar, terutama saat intensitas hujan meningkat di sekitar lereng gunung. Kondisi ini membuat rencana pembangunan jembatan menjadi perdebatan panjang antara aspek keselamatan, kebutuhan mobilitas warga, serta kebijakan tata ruang wilayah bencana.
Insiden yang menimpa siswi sekolah dasar itu pun menambah daftar risiko yang dihadapi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran lahar. Warga berharap ada solusi jangka panjang, baik berupa jalur alternatif yang lebih aman maupun kebijakan mitigasi yang benar-benar melindungi aktivitas harian mereka.