Masa Kecil dan Latar Belakang Keluarga
Muhammad Cheng Ho lahir pada tahun 1371 M di Kunyang, Yunnan, sebuah wilayah di barat daya Tiongkok. Nama kecilnya adalah Ma He, berasal dari marga Ma, yang pada masa itu umum digunakan oleh keluarga Muslim di Tiongkok. Ia lahir dari keluarga Hui Muslim, etnis Muslim Tiongkok yang telah lama menetap dan berasimilasi dengan budaya lokal.
Ayah dan kakeknya dikenal sebagai orang yang pernah menunaikan ibadah haji ke Makkah, sehingga lingkungan keluarga Ma He kental dengan nilai-nilai Islam. Sejak kecil, ia telah diperkenalkan pada ajaran Islam, etika perdagangan, serta kisah-kisah dunia luar yang kelak membentuk pandangan globalnya.
Namun, masa kecil Ma He tidak berjalan mulus. Ketika Dinasti Ming melakukan ekspedisi militer ke Yunnan untuk menumpas sisa kekuasaan Dinasti Yuan (Mongol), wilayah tempat tinggalnya menjadi medan konflik. Dalam kekacauan tersebut, Ma He ditangkap oleh pasukan Ming, dijadikan kasim, dan dibawa ke ibu kota kekaisaran.
Masuk ke Lingkaran Kekuasaan Dinasti Ming
Ma He kemudian ditempatkan sebagai pelayan istana dan akhirnya mengabdi kepada Zhu Di, Pangeran Yan, yang kelak menjadi Kaisar Yongle. Di lingkungan istana, Ma He menunjukkan kecerdasan, loyalitas, kemampuan diplomasi, dan kecakapan militer yang luar biasa.
Ketika Zhu Di berhasil merebut takhta dan naik menjadi Kaisar Yongle pada tahun 1402, Ma He menjadi salah satu orang kepercayaannya. Sebagai bentuk penghormatan, sang kaisar memberinya nama baru: Zheng He, yang berarti “keharmonisan yang lurus”.
Diangkat sebagai Laksamana Besar
Kaisar Yongle memiliki visi besar: menunjukkan kejayaan Dinasti Ming ke seluruh dunia, membuka jalur diplomasi dan perdagangan, serta menegaskan posisi Tiongkok sebagai kekuatan global. Untuk misi besar ini, Zheng He ditunjuk sebagai Laksamana Besar Armada Harta Karun (Treasure Fleet).
Armada yang dipimpinnya sangat luar biasa:
- Lebih dari 300 kapal
- Sekitar 27.000–30.000 awak
- Kapal terbesar (Baochuan) diperkirakan mencapai panjang 120–140 meter, jauh melampaui kapal Eropa pada masanya
Tujuh Pelayaran Besar (1405–1433)
Antara tahun 1405 hingga 1433, Muhammad Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi laut besar yang menjangkau wilayah luas, antara lain:
- Asia Tenggara (Champa, Siam, Malaka, Jawa, Palembang)
- Asia Selatan (India, Sri Lanka)
- Timur Tengah (Arab, Teluk Persia)
- Afrika Timur (Somalia, Kenya)
Di Nusantara, Cheng Ho memiliki peran penting. Ia tercatat singgah di Samudera Pasai, Palembang, Gresik, dan wilayah pesisir Jawa lainnya. Dalam banyak catatan lokal, Cheng Ho dikenang sebagai tokoh yang ramah, diplomatis, dan menghormati budaya serta agama setempat.
Sebagai seorang Muslim, Cheng Ho tidak hanya berdagang dan berdiplomasi, tetapi juga:
- Mendukung komunitas Muslim lokal
- Membangun dan merenovasi masjid
- Menjalin hubungan damai antara Tiongkok dan kerajaan-kerajaan Islam
Beberapa sejarawan meyakini bahwa kehadiran Cheng Ho memperkuat penyebaran Islam secara damai di Asia Tenggara, meskipun ia bukan seorang dai dalam arti formal.
Nilai Kepemimpinan dan Diplomasi
Berbeda dengan ekspedisi kolonial Eropa di kemudian hari, pelayaran Cheng Ho tidak bertujuan menjajah. Misinya lebih menekankan:
- Diplomasi
- Pertukaran budaya
- Pengakuan simbolik terhadap kekaisaran Ming
- Perdamaian dan stabilitas jalur laut
Ia dikenal tegas terhadap bajak laut dan kekacauan, tetapi lunak terhadap kerajaan yang bersedia menjalin hubungan damai.
Akhir Hayat
Muhammad Cheng Ho wafat sekitar tahun 1433 M, kemungkinan besar dalam perjalanan pulang dari pelayaran ketujuh atau tidak lama setelahnya. Ada perbedaan pendapat mengenai lokasi wafatnya—sebagian menyebut di laut, sebagian lain di Nanjing.
Makam simbolisnya berada di Nanjing, sementara beberapa tradisi Muslim meyakini adanya makam peringatan di wilayah lain, termasuk Asia Tenggara.
Warisan Sejarah
Muhammad Cheng Ho dikenang sebagai:
- Laksamana Muslim terbesar dalam sejarah Tiongkok
- Simbol toleransi dan harmoni antarbudaya
- Jembatan peradaban antara Tiongkok, Islam, dan Nusantara
Hingga kini, namanya diabadikan dalam:
- Masjid Cheng Ho di berbagai kota Indonesia
- Buku sejarah dunia
- Studi maritim internasional
Sumber Referensi:
Levathes, Louise. When China Ruled the Seas: The Treasure Fleet of the Dragon Throne, 1405–1433. Oxford University Press, 1994.
Dreyer, Edward L. Zheng He: China and the Oceans in the Early Ming Dynasty. Pearson Longman, 2006.
Mills, J.V.G. Ma Huan: Ying-yai Sheng-lan (The Overall Survey of the Ocean's Shores). Cambridge University Press, 1970.
Kong Yuanzhi. Zheng He and Islam in Southeast Asia. Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society.
Slamet Muljana. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. LKiS.