SIKKA, Gnext Indonesia – Sebuah potret perjuangan pendidikan yang menyentuh hati datang dari Kecamatan Tanawawo, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Dalam sebuah video yang viral, tampak siswa-siswi SMP harus berjuang ekstra dengan berlarian menaiki bukit sambil menggotong meja dan kursi belajar mereka. Aksi ini terpaksa dilakukan demi mendapatkan sinyal internet agar dapat mengikuti gladi Tes Kendali Mutu (TKA).
Saat dimintai keterangan oleh Gnext Indonesia pada Jumat (13/3/2026), narasumber sekaligus pengunggah video, Yudianti Seto (melalui akun Instagram @yudianti_seto), menjelaskan bahwa kejadian tersebut adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi di lapangan akibat minimnya infrastruktur pendukung.
"Perlu saya jelaskan bahwa video itu adalah video asli, bukan rekayasa atau settingan. Kejadian dalam video memang benar terjadi saat kami sedang melaksanakan gladi TKA," tegas Yudianti.
Kondisi di lokasi saat itu memang sangat menantang. Padamnya aliran listrik serta kondisi sinyal yang sangat lemah—bahkan sering hilang total—memaksa para siswa dan guru untuk mencari titik tertinggi di perbukitan agar perangkat mereka bisa terhubung dengan jaringan.
"Tujuan saya hanya ingin berbagi cerita tentang semangat dan antusiasme siswa serta guru dalam mengikuti gladi, meskipun kami menghadapi beberapa keterbatasan seperti listrik yang sering padam dan sinyal yang hilang," tambahnya.
Yudianti menekankan bahwa unggahan tersebut tidak bermaksud untuk menyudutkan pihak mana pun, melainkan sebagai bentuk apresiasi terhadap daya juang anak didik mereka yang tetap membara di tengah keterbatasan.
"Video tersebut saya unggah bukan untuk menyindir atau menyinggung pihak mana pun terkait pelaksanaan TKA. Bagi kami, momen itu justru menunjukkan bahwa anak-anak tetap memiliki semangat belajar yang luar biasa. Itulah yang ingin saya bagikan melalui video tersebut," pungkas Yudianti menutup keterangannya.
Kisah dari Tanawawo ini menjadi pengingat bagi publik mengenai tantangan besar pendidikan di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), di mana semangat belajar sering kali harus dipaksa melampaui ketersediaan infrastruktur yang ada.